Sabtu, 13 Juni 2009. Saya dan beberapa teman guru berniat besuk ibu dari bu Herni (Kepsek SLB) di RSAL dr. Ramelan Surabaya. Karena melewati jembatan Mayangkara, otomatis mobil yang kami tumpangi harus berputar balik, sebagaimana kita ketahui bersama, untuk berputar balik di jalan raya kota besar, apalagi di Jl. A. Yani Surabaya, Neckbottle nya ada di sekitar Jembatan mayangkara, mobil harus berputar balik sesuai jalur. sebenarnya saya tahu betul seluk beluk Jl. A. Yani, karena kampus UNESA ada di daerah tersebut, namun tetep saya biarkan tatkala pak sopir mengarahkan moncong mobilnya ke arah jembatan, “wah bakal kliwat aduh iki”, pikirku. “wis gak opo-opo, putar balik di Giant ja” hiburku. eh ternyata pak sopir terus mengarahkan mobilnya ke arah selatan, arah Sidoarjo. saya melihat kanan kiri jalan yang sudah saya tingalkan lebih dari 3 tahun itu ternyata banyak rumah warga yang tergusur untuk proyek pelebaran jalan, sesekali saya teringat kenangan di IAIN Sunan Ampel, di UNDIP, UNiversitas Depan IAIN Pas (Ubhara, heee) bersama teman dan pacar, terkadang juga teringat masa-masa sulit saat menyelesaikan skripsi. Tiut, tiut, tiut sirine palng pintu kereta membuyarkan lamunan saya. Sesampai di pertigaan bunderan Dolog, mobil diarahkan ke Kiri, “kemana ini”, gumamku dalam hati. “ah, melu wae itung-itung ben ngerti dalan”. aduh, ternyata pak sopir gak tahu jalan di sana. mobil keluar masuk dari gang ke gang, dari perumahan ke perumahan gak tahu arah. akhirnya kami istirahat untuk makan di sebuah warung pinggir jalan. aku memesan makanan yang sudah lama tidak ku cicipi, Gule.
kwekkwekkwekkwek, suara kereta kelinci yang penuh dengan buku tertata rapi di rak “gerbong” no.2, “Gerbong” no.1 tempat lokomotif dan “masinis” sedangkan “Gerbong” no.3 tempat membaca. Wau, Seketika aku beranjak dari tempat dudukku dan menghentikan lajunya, “Pak berapa ongkos untuk membuat ini semua?” tanyaku penuh selidik, “cuma 30 juta mas”. jawabnya dengan logat arek suroboyo yang khas. wik, ternyata mimpiku cuma 30 juta.













