GURU SEBAGAI TELADAN (Ing Ngarso Sung Tuladha)

Dalam suatu lingkup pembelajaran di sekolah terutama sebagai guru pernahkah kita mencermati suatu kondisi dan keadaan saat siswa datang terlambat?. Sebagian dari mereka menunjukkan kemalasan atau ketidaksukaannya bahkan kadang kala mereka datang ke sekolah hanya untuk sekedar menggugurkan kewajiban untuk mengisi absen. Menandakan rendah sekali di antara siswa yang menyenangi kegiatan belajar di Sekolah.

Tragisnya ada beberapa siswa yang mengatakan bahwa datang awal adalah merupakan suatu kegiatan yang sangat sia-sia, membosankan dan tidak menarik sama sekali, bagaimana tidak, siswa disuruh masuk jam 7:15, sementara gurunya baru datang jam 7:30 (kapan mulai pelajarannya?). Mengapa hal itu bisa terjadi? Apakah ketidaktepatanwaktu siswa pada kegiatan belajar merupakan kesalahan siswa itu sendiri yang sulit diarahkan ? Tentu sebelumnya kita harus lebih berpikir secara bijaksana.

Di dalam menganalisa sesuatu hal maka kita harus mau dan berusaha untuk memetakan dan mencari sumber kesalahan tersebut, tidak boleh secara sertamerta kita menimpakan sebuah kesalahan itu pada diri siswa. Ingat kata Gus Dur, “ketika jari telunjuk kita mengarah pada seorang siswa, empat jari yang lain justru mengarah pada diri kita”. Jadi, alangkah baiknya bila kita harus berupaya melakukan introspeksi didahulukan sebelum menjatuhkan vonis.

Keengganan siswa untuk bisa “On Time” tidak sepenuhnya sebagai kesalahan siswa. Bisa saja kesalahan itu justru bisa terjadi pada gurunya. Apabila kita mau jujur, kesulitan “On Time”  ini juga terjadi pada guru, yang notabene selama ini sering menyuruh “On Time” kepada siswa, akan tetapi tidak pernah mengajak “On Time”. Kelemahan guru dalam “On Time” akan tampak ketika guru-guru tadi diminta mengikuti upacara pagi Senin dan mengampuh pelajaran pada jam pertama serta pada jam-jam setelah istirahat. Mereka datang terlambat dengan 1001 alasan, sementera siswa hanya mau tahu 1 alasan, TERLAMBAT = DATANG TERAKHIR/MELEWATI BATAS WAKTU, TITIK.

Teladan itu akan memberikan sebuah apresiasi dan perubahan pola pikir kepada siswa tentang bagaimana dapat “On Time” , menghargai waktu, berpikir kritis, hormat pada guru, termasuk di dalamnya mengerjakan tugas tepat waktu. Barangkali guru akan terperangah dan baru menyadari bahwa mereka sendiri hampir tidak pernah datang tepat waktu, kecuali pada awal bulan, tanda tangan gaji.

Lantas, pantaskah guru mengeluhkan kedisiplinan siswa dalam kegiatan “On Time”, dan sementara guru sendiri tak mampu menjadi contoh bagi siswa ? Bagaimanapun juga, siswa akan berkaca pada gurunya. Mereka akan tertarik untuk “On Time”  bila gurunya mampu menunjukkan betapa hebatnya dan sungguh mengasyikkannya datang “On Time”  itu. Dalam sebuah konsep sebab akibat yang saling berkorelasi dan berhubungan maka untuk dapat menunjukkan sikap “On Time”  itu, tentu saja seorang guru harus “On Time” juga.

Berkaitan dengan kedisiplinan, seorang guru hendaknya bisa menjadi contoh bagi siswa. Untuk itu, mau tidak mau, guru pun dituntut untuk meninggalkan egonya (menomer2kan urusan keluarga pada jam sekolah) serta berhenti mencari 1001 alasan untuk “Menghalalkan” keterlambatannya. Perilaku guru dapat dijadikan contoh atau bahkan menjadi panutan bagi siswa. Di samping itu, dengan “On Time”. Sebagian besar guru kita memang seringkali bisa menyampaikan beragam teori tentang kedisiplinan, tetapi tidak dapat melakukan atau menerapkan teori yang disampaikan itu.

Misalnya, guru otomotif sangat mahir menyampaikan teori tentang motor bakar, Tune-Up, Penyetelan Rem, Transmisi, juga bagaimana cara menjadi pegawai/pengusaha yang sukses. Namun, yang sering dilupakan adalah guru kurang perhatian bahkan tidak mengembangkan usaha keterampilan produktif (mendirikan bengkel sendiri, misalnya) tersebut secara nyata dan terus menerus. Bila guru senang memberi teladan, tentu akan memotivasi siswa untuk senang bekerja pula.

Sebenarnya, “On Time” dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana. Bisa dari pengalaman pribadi yang mengidolakan guru“On Time” semasa di Sekolah dulu, menumbuhkan rasa malu datang terlambat, mencintai profesi, bahkan bila memungkinkan menambah wawasan tentang pentingnya PROSES PENDIDIKAN, agar lebih tahu betapa berperannya seorang guru terhadap karakter anak. Beberapa siswa bahkan ada yang sering “On Time” meski datang dengan perut yang masih kosong, bukankah itu merupakan suatu tamparan bagi semua guru?.

Haruskah seorang guru selalu “On Time”? Jawabannya, tentu saja. Akan tetapi tidak mengesampingkan 4 kecerdasan guru yang ada dan dinilai pada proses pemberian tunjangan fungsional guru (sertifikasi guru).

Semua itu memerlukan proses, bila serius melakukan, tentu akan terbentang jalan. Ingat, di balik kesulitan pasti ada kemudahan (Inna ma’al ‘ushri yushro).  Jadi, sangatlah tidak beralasan bila masih ada guru yang dalam sejarah keguruannya tidak pernah mampu memberi teladan “On Time” pada siswanya.

Namun, bila guru yang sering terlambat ini tetap bisa percaya diri mengajar di hadapan para siswa tanpa merasa punya beban moral atau tanpa punya keinginan untuk merubah perilaku “menyimpangnya”, sungguh ‘luar biasa’. Akhirnya, mari kita bangkitkan semangat untuk selalu “On Time”  agar kita mampu memberi teladan bagaimana cara “On Time”  itu kepada para siswa kita sepeninggal kakak kelasnya.

Tulisan ini merupakan hasil “bertapa” selama 4 hari di rumah dan banyaknya SMS siswa yang menanyakan kabar berita dan mengabarkan berita tentang perilaku “menyimpang” guru-gurunya, serta sebagai kado Hari Pendidikan Nasional. “Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani”.

Oleh: Moh. Khoirul Anwari

Guru Pada SMK Negeri 1 Pugaan

2 Balasan ke GURU SEBAGAI TELADAN (Ing Ngarso Sung Tuladha)

  1. Guru Pantura berkata:

    Semoga kita semua sebagai pendidik/guru bisa selalu memberikan tuladha yang baik dalam segala hal kepada setiap anak didik dan masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s